Sip, mari kita teruskan cerita perjalanan ke Dieng, (hari ini saya putuskan untuk gak belajar sampe sore, habis ngeles baru belajar lagi, sekarang ngeblog dulu), wkwkwk.

Perjalanan ke Dieng kami mulai di pagi hari yang cerah, kami berangkat dengan disupiri oleh, masnya Agung, ceritanya nih, dia seorang polisi dari “mabes Polri”. Yakk, nanti kita akan banyak bergaul dengan kata “Mabes Polri”. Monggo, sini saya ceritain.

Sebelum berangkat masnya mengatakan

Ntar gung, kalau ada yang minta-minta bayar tiket, gak usah dibayar, mas aja yang nanganin, tapi kalau soal makan, masing-masing ya, mas tidak nanggung

Saya sebenarnya agak gak ngeh maksud kalimat itu, saya berfikir ooh baik banget sih orang nya ini, udah mobil dipeinjemin, disupirin, eh ini tiket dibayar juga. Ckckck….

Untuk mencapai Dieng, kita harus melalui Temanggung dan Wonosobo. Sepanjang perjalan, saya melihat pola perkampungan warga yang ada, masyarakatnya umumnya berpola agraris, banyak yang menanam sayuran dan kentang. Tetapi saya tidak sanggup untuk terjaga sepanjang perjalanan, mengingat dari Magelang ke Dieng membutuhkan waktu selama 3 jam.

WELCOME TO THE GOD ABODE

Nama Dieng itu sendiri berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi: “di” yang berarti “tempat” atau “gunung” dan “hyang”  yang bermakna dewa. Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam.

Di Dieng kita akan menemui beberapa objek wisata seperti:

1.    Kawah Sikidang; merupakan kawah gunung berapi yang mengeluarkan uap panas dari air mendidih yang ada di kawahnya.

Kawah Sikidang

2.    Telaga Warna dan Telaga Pengilon; danau yang airnya berwarna biru langit (di kompleks ini akan kita temukan juga Dieng Plateu Theatre dan ada beberapa gua juga).

Talaga Warna (by Marfian RE)
Menikmati Udara Pagi Sambil Makan Jagung Bakar
Salah Satu Goa yang Ada Dikawasan Talaga Warna

3.    Komplek Candi  Hindu yang dibangun pada abad ke-7, antara lain: Candi Gatotkaca, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Sembadra, Candi Srikandi, Candi Setyaki, Gangsiran Aswatama, dan Candi Dwarawati.

Kompleks Candi di Dieng

Sepanjang perjalanan kami, ternyata sangat banyak pungutan-pungutan liar yang dilakukan oleh penduduk menuju objek wisata. Namun, berkat adanya kartu MABES POLRI punyanya masnya Agungya, semua pungutan BEBAS, aliass FREE…. Pertama, saya agak terkejut si masnya berani gak bayar, padahal itu ada resmi karcisnya, saya langsung ngupdate status bbm “Dilema Pengelolaan Keuangan Negara antara Fiskus dengan Mabes Polri”. Namun, setelah beberapa saat dilalui, ternyata pungutan semakin banyak, barulah saya maklum, ternyata Mabes Polri memang diperlukan, karena itu saya update status lagi, “Liburan x ini disponsori oleh MABES POLRI”. Hehehehe.

Udara di daerah ini sangat segar mirip dengan di Berastagi, namun bedanya di Berastagi tidak ada candi, sedangakan disini ada Candi. Objek wisatanya memang bagus, tapi standarlah, tidak terlalu bagus namun tidak terlalu jelek juga.

Setelah asik berjalan-jalan kamipun akhirnya pulang dari Dieng, sebelum balik ke Magelang, saya makan Mie Ongklok, mie khas Wonosobo. Rasanya manis, mienya diseduh cairan kental berwarna coklat (gak tau ramuannya apa aja), tapi bagi yang mungkin gak biasa ini sedikit mengerikan.

TRAVELLING IN MAGELANG TOWN

Sepulang dari Dieng, kami menuju Angkringan, semenjak di pulau jawa, baru kali ini saya pernah makan di angkringan, ada nasi kucing dan beberapa teh hangat. Saya memsan susu jahe, nasi teri, dan beberapa tusuk sate. Harganya tidak mahal, total pembelanjaan saya tidak lebih dari Rp 10.000.

Besoknya, kami mengadakan wisata kuliner di seputar kota Magelang, kami ke Alun-Alun Kota Magelang, memakan beberapa kuliner seperti harganya sangat unik karena ada yang Rp 2.200; Rp 2.400, Rp 2.500, Rp 2.700, dst beragam dan bedanya itu tipis-tipis tanpa pembulatan ke atas atau kebawah.

Jalan Alon-Alon Selatan Kota Magelang
Makanan Khas Magelang

Akhirnya, kami harus pulang ke Bintaro, bye Magelang, nice too meet you, semoga di lain kesempatan bisa main kesitu lagi. Kami pulang menggunkan angkutan Santika, dan ternyata busnya wow bangetlah, padahal kelasnya VIP, kurangnya hanya satu colokan listrik untuk ngecas HP, kalau ada itu menurut saya bus ini 99% perfect. Kamar kecilnya standarnya sama dengan kamar mandi di pesawat terbang. TV nya ada dua, disebelah kir dan kanan. Selain itu, supir dan penumpang dipisah, ada pintu yang membatasi antara sopir dengan penumpang.

END

3 thoughts on “Magelang-Yogyakarta-Dieng (Part II)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *